Gambaran masyarakat yang biasa disematkan kepada para politikus
hingga kini bisa dibilang masih negatif. Untuk mengatakan bahwa moral
para politikus itu seperti tikus tentu saja merupakan gambaran yang
terkesan terlalu kasar dan kurang sopan, meski analogi itu ternyata yang
paling mewakili. Kritik yang disampaikan kepada para politikus terutama
melalui media gambar, hampir selalu diwakili oleh gambar tikus-tikus
berdasi. Begitu pula kritik yang dilemparkan melalui lagu maupun puisi.
Memang, moral para politikus dewasa ini perlu dipertanyakan, atau
bahkan disangsikan. Bahwa mereka adalah para calon pemimpin negeri,
maka apa jadinya negeri ini jika moral dan mental mereka masih seperti
tikus? Tentu saja ini akan berbahaya bagi keberlangsungan negeri ini ke
depan. Karena bagaimanapun, para pemimpinlah yang menjadi nahkoda
negeri, dan di tengah mereka nasib negeri ini diserahkan; hendak mereka
bawa ke mana negeri ini?
Kita sebagai masyarakat akar rumput melihat, dengan mata kepala
dan mata hati, tidak dengan mata kaki, bahwa tampaknya orientasi para
politikus atau calon para pemimpin negeri ini rata-rata tidak untuk
memperbaiki negeri, namun lebih untuk memperbaiki diri sendiri dalam
pengertian yang sesempit-sempitnya: untuk mendulang materi dalam waktu
sesingkat-singkatnya. Secara umum, inilah tujuan utama dari setiap para
politikus.
Jika satu-satunya impian yang dikejar oleh para politikus adalah
hal di atas, maka tak heran jika kemudian korupsi menjadi budaya yang
merebak di negeri ini, mulai dari kekuasaan kelas kepala desa hingga
tingkat istana negara. Bahkan, ketika sebagian kecil dari politikus yang
korup itu akhirnya tertangkap sekalipun, tampak mereka tak malu-malunya
senyam-senyum di depan kamera, kendati digelandang menuju sel tahanan.
Begitulah jadinya jika persoalannya memang sudah sejak awal.
Politik kekuasaan yang wataknya keras, penuh intrik dan kecurangan yang
seharusnya dijahui malah digandrungi. Bahkan, sejak jauh-jauh hari, saat
bursa pemilihan pemimpin, baik di tingkat kabupaten, daerah maupun
pusat masih jauh, aksi tebar posona sudah terjadi di mana-mana.
Baliho-baliho dalam ukuran besar dengan gambar orang nyengir dengan
beragam gaya tertampang di mana-mana; di pinggir-pinggir jalan, di bawah
pohon, di tembok-tembok gedung, yang membikin suasana kota seperti
dinding-dinding facebook: narisis abis.
Selanjutnya, ceritanya hampir selalu monoton. Para politikus
tiba-tiba menjadi semacam manusia setengah dewa. Tiba-tiba saja mereka
rajin menghadiri acara-cara bakti sosial, bahkan tidak sungkan-sungkan
untuk mengaluarkan uang di acara tersebut, tentu saja disertai
pengumuman layaknya iklan. Mereka juga jadi rajin berkunjung ke sana ke
mari, menghampiri para tokoh masyarakat, para pendiri pesantren, para
aktivis LSM, organisasi-organisasi sosial-keagamaan dan lain sebagainya,
yang kadang juga perlu diliput media.
Apapun alasannya, yang jelas para politikus yang melakukan
kunjungan ke sana ke mari itu tujuannya hanya satu: membeli suara
rakyat. Itu sebabnya mereka tidak segan-segan mengucurkan rupiah, tak
peduli berapapun nilainya dan dari mana sumbernya.
Dan, pada gilirannya, yang rugi tentu adalah masyarakat akar
rumput. Hal itu tentu bukan saja murni kesalahan politisi, tapi
kesalahan juga diakibatan oleh masyarakat sendiri, yang masih senang
menerima bantuan-bantuan ataupun apalah namanya dari para politisi. Dan,
karena yang terjadi pada hakikatnya adalah jual-beli suara, maka jangan
heran jika kemudian masyarakat menjadi tidak terwakili dan tidak
terayomi.
*) Sumber tulisan: Buletin SIDOGIRI,
edisi-72, hal. 11-12, Syaban, 1433 H.
Moral Para Politikus
Written By Team webnu on Kamis, 03 Januari 2013 | 03.21
Related Articles
Jika Anda menyukai Artikel di web ini, Klik disini, untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di website Pondok Pesntren Nurul Ulum.
Label:
Ilmiyah
0 komentar:
Posting Komentar